LEMBU NANDAKA

November 30, 2009 oleh iwayanputra

BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Seraya adalah sebuah desa yang terletak di ujung timur Pulau Bali yang memiliki karakteristik tanah kering bebatuan. Mata pencaharian sebagian besar penduduknya adalah sebagai petani dan peternak. Lahan pertanian yang sebagian besarnya adalah lahan kritis dengan tekstur berbatu mendapat guyuran hujun hanya pada musim penghujan sekitar bulan Desember sampai Juni setiap tahunnya. Dengan turunnya hujan maka petani memulai aktifitasnya menanam tanaman khas Seraya yaitu Jagung Seraya yang terkenal karna empuk jika digoreng dan rasanya manis jika dibakar. Di beberapa tempat di bagian barat Seraya terdapat kurang lebih 20 Ha sawah tadah hujan yang melakukan kegiatan menanam padi di musim hujan yang organisasi pengairannya diatur oleh Subak Lebah. Pada era 1980-an ke bawah Seraya terkenal dengan Jeruk Seraya, akan tetapi dengan semakin banyaknya macam penyakit termasuk penyakit CPPD maka pada saat ini Jeruk Seraya hanya tinggal kenangan. Tanaman lahan kritis yang sekarang ini sudah dan sedang dikembangkan saat ini adalah tanaman Silik dan Jambu Mete. Dua komoditas tersebut termasuk kedalam komoditas tanaman lahan kritis dengan hasil tahunan.
Sementara di bidang peternakan yang paling menonjol dan sangat diandalkan oleh masyarakat Seraya adalah peternakan Sapi Bali. Sapi Bali yang merupakan sebuah plasma nuftah yang merupakan keturunan dari Banteng Jawa yang memiliki karakteristik adaptasi yang sangat bagus. Daya tahan terhadap penyakit dan tingkat kesuburan induk yang sangat bagus. Dimana birahi datang paling lambat 5 bulan setelah induk sapi melahirkan. Dimana Sapi Bali memiliki kualitas daging yang sangat disukai oleh konsumen dengan karakteristik yang empuk tidak kenyal. Sehingga Sapi Bali sangat layak dan menguntungkan jika dikembangkan mengingat potensi genetiknya yang bagus demikian juga memiliki pangsa pasar yang lumayan luas. Dan jika dihubungkan dengan kebutuhan daging sapi nasional yang masih impor dari Australia dan India sehingga prospek pengembangan Sapi Bali masih berpeluang besar.
Peternakan lainnya yang sudah dan sedang dikembangkan di Seraya adalah babi, ayam buras dan kambing. Ketiga jenis ternak tersebut juga memiliki potensi untuk dikembangkan akan tetapi menurut data yang dihimpun para petani lebih cenderung untuk mengembangkan ternak Sapi Bali karna melihat keuntungan-keuntungan tersebut di atas.
Melihat potensi tersebut pemerintah sangat gencar untuk mengadakan dan menyalurkan berbagai program pertanian maupun peternakan agar dapat membantu masyarakat dalam usaha meningkatkan berbagai usaha kegiatan peternakan. Caranya adalah dengan mengembangkan kelompok kelompok pertanian maupun peternakan yang dibina langsung oleh Dinas Peternakan dan Kelautan Kabupaten Karangasem. Program-program yang sudah pernah diluncurkan dan berhasil adalah :
1. Proyek Tiga Strata di Seraya Barat telah banyak membantu petani dalam metode tumpang sari pengembangan pakan ternak yang diterima langsung oleh beberapa kelompok yang disalurkan langsung oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Karangasem.
2. Proyek Embung bagi penyediaan air minum ternak yang sudah membantu peternak dalam penyediaan air minum bagi ternak yang disalurkan oleh pemerintah Kabupaten Karangasem langsung ke kelompok.
3. Bantuan sapi dengan sistem ngadas dari Pemprov Bali
4. Bantiuan ternak ayam
5. Bantuan pengembangan agribisnis jajan opak yang berbahan ketela pohon
Program program tersebut sudah berjalan secara baik dan bahkan meninggalkan jejak berupa eksisnya beberapa kelompok binaan tersebut hingga sekarang. Hal tersebut merangsang warga Seraya lainnya untuk ikut memberdayakan diri dengan membentuk kelompok kelompok peternakan karna mengharapkan mendapat binaan dari dinas terkait dan mempermudahnya mendapat akses modal baik secara hibah dari pemerintah ataupun dengan sistem pinjaman dari lembaga finansial seperti bank dan koperasi.
Perkembangan terakhir sesuai dengan perhatian pemerintah yang sangat besar terhadap sektor pertanian dan peternakan maka kabarnya sudah dan sedang bergulirnya berbagai format bantuan baik oleh Pemda, Pemprov maupun pusat. Akan tetapi dengan adanya otonomi di tingkat kedesaan hal tersebut ceritanya menjadi lain. Gerakan pemberdayaan dalam tataran pemerintahan tingkat desa berubah menjadi gerakan memperdaya rakyat kecil khususnya petani dan peternak ditengah-tengah ketidak berdayaannya dalam pengetahuan dan keterbatasan ekonomi.

2. OTONOMI DI TINGKAT KEDESAAN
Dengan bergulirnya kebijakan bahwa desa dinas memiliki hak otonom sehingga pemerintah pusat, provinsi hingga kabupaten menyerahkan penyelenggaraan berbagai macam bantuan ke tingkat desa.
Kebijakan pemerintah yang terlampau cepat dalam hal otonomi desa tanpa mempersiapkan sumber daya manusia di desa dinas dalam konteks pembangunan bidang pertanian dan peternakan memberi dampak berupa :
1. Adanya perbedaan pemahaman Perbekel dan Perangkat Desa dalam mengelola bantuan tersebut dengan contoh kebijakan di tingkat desa :
- kelompok hasil binaan Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan tidak diperhatikan
- sikap arogan pemerintah desa dalam pendistribusian tersebut yang didominasi oleh kepentingan politik tingkat desa tanpa mempertimbangkan unsur pemberdayaan
- tidak berdayanya BPD dan LPM yang merupakan DPR-nya desa dalam mengemban aspirasi masyarakat menambah buruknya keadaan

2. Adanya sikap kurang memihak pada petani dan peternak dari Perbekel dan Perangkat Desa.
3. Kurang diberdayakannya masyarakat desa sehigga menerima begitu saja keputusan Perbekel dan Perangkatnya.

Program-program pemerintah yang penyalurannya setelah berada di tingkat kedesaan yang tidak tepat sasaran adalah :
1. PUAP yang penyalurannya melalui GAPOKTAN atau SUBAK. Dimana senyatanya di Seraya Barat terdapat sebuah GAPOKTAN dan dua buah Subak yaitu Subak Sawah dan Subak Abian akan tetapi malah didistribusikan kepada 9 dusun secara merata yang tidak jelas peruntukannya. Bahkan ada salah satu banjar menaruh uang tersebut di KKM
2. LM3 yang penyalurannya semestinya menggunakan format GAPOKTAN dan Subak yang sudah ada akan tetapi justru hanya diperuntukkan bagi tiga banjar dinas.
3. UB (Usaha Bersama ) yang merupakan sumbangan 80 ekor sapi bagi kelompok-kelompok yang ada akan tetapi justru jatuhnya kepada 9 dusun yang dibagi secara merata yang berakibat pada tidak tercapainya program pemerintah dalam usaha memberdayakan petani dan peternak.
4. Dan berbagai macam bantuan berupa ternak dan bantuan lainya yang jatuh di desa kepada kelompok-kelompok sering peruntukannya tidak tepat sasaran dengan modus membentuk kelompok dadakan dan setelah bantuan dibagikan kelompoknya dibubarkan.

Kelompok-kelompok yang sudah terbentuk yang jumlahnya sebanyak 19 kelompok dan 2 subak tidak pernah diperhatikan oleh pihak pemerintah desa. Walaupun demikian adanya, pihak kelompok tidak tinggal diam begitu saja dan telah melakukan berbagai usaha pendekatan kepada pemerintah desa melalui LPM akan tetapi tidak pernah mendapat tanggapan. Bahkan ajakan kami untuk berbicara secara baik-baik agar kelompok kami dapat di akomodir dalam kelompok tersebut tidak pernah mendapat tanggapan.
Melihat fakta tersebut menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia di tingkat kedesaan sangat mendukung lajunya pelaksanaan program yang berujung kepada tercapainya program pemerintah berupa percepatan pembagunan di tingkat desa. Sehingga upaya pemberdayaan masyarakat dalam bidang ekonomi kerakyatan yang mengakar mandiri dalam mewujudkan kesejahteraan di tingkat desa dapat terlaksana.

BAB II
PROFIL HIMPUNAN KELOMPOK TANI TERNAK LEMBU NANDAKA
DESA SERAYA BARAT

1. POTENSI PETERNAKAN SAPI BALI

Himpunan Kelompok Tani Ternak Lembu Nandaka adalah sebuah Organisasi Kelompok Tani Ternak yang tersebar di wilayah Desa Seraya Barat dan sekitarnya. Dengan jumlah kelompok pendukung adalah 19 Kelompok Tani Ternak dimana mengkhususkan diri bergerak untuk mengembangkan potensi peternakan Sapi Bali. Dimana usaha peternakan Sapi Bali tersebut dirasakan telah manfaatnya dari generasi ke generasi dalam mendukung perekonomian Desa Seraya Barat dan sekitarnya. Karakteristik Desa Seraya dan sekitarnya secara umum sangat mendukung usaha peternakan. Dengan tekstur tanah kering berbatu dimana kehadiran hujan yang datang setiap tahun hampir selama 6 bulan di musim penghujan sekitar bulan Desember hingga Juni telah mendatangkan berkah berupa tumbuhnya rumput dan tanaman lahan kering di sela-sela tanaman musiman has Seraya berupa jagung dan palawija yang mendatangkan cukup pakan ternak. Sebenarnya pada awalnya memelihara sapi bagi seluruh masyarakat Seraya dianggap sebagai pekerjaan petani sampingan. Akan tetapi dengan semakin tingginya nilai ekonomi ternak sapi maka semakin menjadikan pekerjaan memelihara sapi bagi petani di Seraya telah menjadi pekerjaan pokok yang tidak dapat dianggap sepele.
Petani peternak di Seraya telah menjadikan Sapi Bali sebagai produk unggulan dalam katagori peternakan. Dimana berdasarkan data yang kami gali dari anggota Himpunan Kelompok Tani Ternak Lembu Nandaka. Dimana keseluruhan jumlah Sapi Bali yang dipelihara oleh anggota masing masing kelompok rata-rata saat ini adalah ….. ekor per orang. Dengan tingkat pertumbuhan peningkatan jumlah sapi tiap tahunnya selama lima tahun terakhir adalah….% tiap tahun. Melihat data tersebut mengindikasikan semakin besarnya harapan masyarakat di Seraya Barat dan sekitarnya terhadap sektor pembudidayaan Ternak Sapi Bali.

Berikut rangkuman data anggota Himpunan Kelompok Tani Ternak Lembu Nandaka
Dan peranannya terhadap pendapatan masyarakat.

NO NAMA KELOMPOK JUMLAH
ANGGOTA RATA-RATA PENGHASILAN DARI PENJALAN SAPI / TAHUN RATA-RATA PENGHASILAN PEKERJAAN LAIN/TAHUN JUMLAH PENGHASILAN / TAHUN PERSENTASE KONTRIBUSI PENJUALAN SAPI SEBAGAI PENGHASILAN
1 LEMBU SORA 20
2 LEMBU ASTAGUNA 20
3 LEMBU PATEKAP 20
4 KUSUMA SARI 20
5 JAYA MANDIRI 20
6 SRIUK PANGGUL 20
7 LEMBU NANDINI 20
8 DADI MAJU 20
9 TULUS DADI 20
10 MEGA JAYA 20
11 TUNAS RAHAYU 20
12 TUNAS MUDA 23
13 MEKAR JAYA 20
14 SRI SEDANA 20
15 TUNAS HARAPAN 20
16 BANTENG ANYAR 20
17 JATI LUIH 20
18 SULUBAN JAYA 20
19 KERTA MANUNGGAL 20
JUMLAH

Dari data tersebut nampak bahwa ketergantungan masyarakat Seraya Barat dari pertanian sektor peternakan Sapi Bali sangat tinggi. Hal itu terlihat dari tingginya persentase kontribusi penjualan sapi pada penghasilan anggota kelompok-kelompok yang tergabung dalam Himpunan Kelompok Tani Ternak Lembu Nandaka Desa Seraya dan sekitarnya.

2. VISI, MISI DAN PROGRAM
Himpunan Kelompok Tani Ternak Lembu Nandaka Desa Seraya dan sekitarnya terdiri dari 19 kelompok tani ternak yang khusus bergerak dalam usaha mengembangkan peternakan Sapi Bali.
Adapun visi kami adalah : “Mewujudkan Desa Seraya menjadi sentra ternak Sapi Bali di wilayah kecamatan Karangasem”.

Dari visi diatas kami jabarkan menjadi beberapa misi yaitu :
1. Memberdayakan diri dalam usaha mengadopsi sistem manajemen peternakan sehingga mendukung usaha effisiensi biaya operasional
2. Memberdayakan diri dalam bidang usaha penyerapan dan penerapan teknologi dalam peternakan Sapi Bali.
3. Menguatkan permodalan kelompok melalui usaha kerjasama dengan pihak penyedia modal baik hibah maupun pinjaman dari sumber finansial seperti bank, pemerintah, koperasi dan sumber lainya.
4. Memberdayakan diri dalam usaha mencari peluang pasar yang lebih menjanjikan
5. Memberdayakan diri dalam usaha mencari dan mengembangkan usaha sampingan yang mendukung usaha peternakan
6. Memperluas keanggotaan ke wilayah Seraya Tengah dan Timur

Dari misi tersebut kami jabarkan menjadi beberapa program yaitu
1. Program jangka panjang 5 tahun pertama yaitu :
a. merintis manajeman, kepengurusan di tingkat kelompok dan himpunan dalam bidang administrasi, anggaran dasar bagi kelompok yang belum membuat dan menerapkannya.
b. Memberdayakan diri dalam usaha menyerap teknologi tepat guna dalam beternak melalui pembinaan kepada kelompok dan himpunan dari dinas terkait dan pihak lain.
c. Mencari peluang mendapatkan penguatan modal bagi kelompok baik dari bank, koperasi, pemerintah dan sumber lainnya
d. Melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan di tingkat pengurus himpunan

2. Program jangka panjang 5 tahun kedua yaitu
a. Mencari penguatan modal tambahan untuk mengembangkan usaha kelompok dan himpunan.
b. Mencari peluang pasar yang lebih menjanjikan.
c. Mengembangkan usaha sampingan yang berhubungan dengan peternakan Sapi Bali.

3. Program tahun 2009

NO
KEGIATAN BULAN PELAKSANAAN KET
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 12
1 Pendataan kelompok X
2 Pembentukan himpunan X
3 Pengukuhan himpunan X
4 Pemantapan organisasi himpunan ( rapat himpunan) X X X X X X X X X
5 Pemantapan organisasi tingkat kelompok bagi yang belum X X X X X X X X X
6 Permohonan pembinaan tingkat himpunan X X X X
7 Permohonan akses modal bagi himpunan dan tingkat kelompok (Proposal) X X X X X X X X X
8 Kegiatan sosial keagamaan X X
9 Studi banding ke kelompok yang sudah maju X

3. KEANGGOTAAN DAN KEPENGURUSAN

Adapun keanggotaan dari Himpunan Kelompok Tani Ternak Lembu Nandaka Seraya dan sekitarnya adalah :
NO NAMA KELOMPOK KETUA ALAMAT JUMLAH ANGGOTA
1 LEMBU SORA I NENGAH MADA SELALANG 20
2 LEMBU ASTAGUNA I WAYAN LATRA SANTOSA SELALANG 20
3 LEMBU PATEKAP I KOMANG GINANTRA GEROBOG 20
4 KUSUMA SARI I GEDE RASNA BUNGKULAN 20
5 JAYA MANDIRI I GEDE DENEN BUNGKULAN 20
6 SRIUK PANGGUL I KOMANG DIARMARA MERAJAN 20
7 LEMBU NANDINI I GEDE SEMIRNA BUNGKULAN 20
8 DADI MAJU I WAYAN WIDA PASIATIN 20
9 TULUS DADI I WAYAN RUTA PASIATIN 20
10 MEGA JAYA I KOMANG ALIT PASIATIN 20
11 TUNAS RAHAYU I NENGAH WIRA PASIATIN 20
12 TUNAS MUDA I WAYAN PUTRA DAUH PANGKUNG 23
13 MEKAR JAYA I NENGAH SUDANA DAUH PANGKUNG 20
14 SRI SEDANA I KOMANG RAI BANJAR BIOK 20
15 TUNAS HARAPAN I KOMANG KARYA DAUH PANGKUNG 20
16 BANTENG ANYAR I MADE SWETA KALANGANYAR 20
17 JATI LUIH I WAYAN TAMTA PASIATIN 20
18 SULUBAN JAYA I NENGAH DANA SULUBAN 20
19 KERTA MANUNGGAL I GEDE MUNGGA PASIATIN 20

Adapun susunan pengurusnya adalah sebagai berikut
NO JABATAN NAMA
1 KETUA I KOMANG DIARMARA
2 WAKIL KETUA I WAYAN LATRA SANTOSA
3 SEKRETARIS I I WAYAN PUTRA
4 SEKRETARIS II I GEDE ADIPUTRA
5 BENDAHARA I NYOMAN GINANTRA
6 SEKSI KESWAN I GEDE SUMATRA
7 SEKSI SAPNONAK I GEDE DENEN
8 SEKSI PRODUKSI I KOMANG RAI
9 SEKSI AGAMA DAN INFORMASI I GEDE SEMIRNA
10 SEKSI PEMASARAN I WAYAN RUDANA

4. PETA PENDISTRIBUSIAN ANGGOTA KELOMPOK

TUNAS HARAPAN

LEMBU PATEKAP

TUNAS RAHAYU DAN MEGA JAYA

DADI MAJU

BANTENG ANYAR

LEMBU ASTAGUNA

TUNAS MUDA

LEMBU NANDINI, KUSUMA SARI DAN JAYA MANDIRI

SRIUK PANGGUL DAN SULUBAN JAYA

TUKUS DADI DAN JATI LUIH

SRI SEDANA

SERAYA BARAT
5. POPULASI TERNAK PADA TIAP KELOMPOK

Berdasarkan data dari inventaris Himpunan Kelompok Tani Lembu Nandaka Desa Seraya dan sekitarnya yang diambil dari data inventaris masing-masing kelompok anggota maka dapat digambarkan populasi ternak pada Himpunan Kelompok Tani Ternak Lembu Nandaka adalah seperti digambarkan pada tabel di bawah ini ;

NO NAMA KELOMPOK JUMLAH KEPEMILIKAN SAPI (EKOR) JUMLAH
2005 2006 2007 2008 2009
1 LEMBU SORA
2 LEMBU ASTAGUNA
3 LEMBU PATEKAP
4 KUSUMA SARI
5 JAYA MANDIRI
6 SRIUK PANGGUL
7 LEMBU NANDINI
8 DADI MAJU
9 TULUS DADI
10 MEGA JAYA
11 TUNAS RAHAYU
12 TUNAS MUDA
13 MEKAR JAYA
14 SRI SEDANA
15 TUNAS HARAPAN
16 BANTENG ANYAR
17 JATI LUIH
18 SULUBAN JAYA
19 KERTA MANUNGGAL
JUMLAH

BAB III
PENUTUP

Demikianlah profil singkat dari keberadaan Himpunan Kelompok Tani Ternak Lembu Nandaka Desa Seraya dan sekitarnya.
Semoga dengan disusunya profil singkat himpunan dari 10 kelompok yang dengan secara sukarela menggabungkan diri menjadi sebuah himpunan kelompok ini dapat menjadi acuan dan pertimbangan bagi para pemegang kebijakan untuk memformat kebijakan pembangunan terutama dalam bidang pembangunan sektor pertanian dalam arti luas dimana peternakan termasuk di dalamnya.
Sehingga pembangunan sektor tersebut dapat menjangkau masyarakat yang menjadi sasaran yaitu para petani dan peternak.
Sebagai akhir kata jika ada kekurangan dan hal-hal yang tidak berkenan melalui kesempatan ini penyusun minta maaf yang sebesar-besarnya. Terimakasih.

Ketua

I KOMANG DIARMARA Penyusun
Sekretaris HKTTSB

I WAYAN PUTRA

DILEMATIKA GURU PROFESIONAL

Januari 4, 2009 oleh iwayanputra

Kita saat ini boleh berbangga menjadi seorang guru. Selain mendapat pengakuan secara birokrat bahwa kita adalah jajaran profesi yang bukan cuma diakui sebagai seorang pegawai negeri  bahkan secara profesi kita akan mendapat layanan sesuai kinerja profesional kita. Sesuai Undang-undang guru dan dosen, posisi guru saat ini sangat bergengsi. Baik dilihat dari segi jabatan fungsional sebagai guru yang secara sosial disegani dan dari segi pendapatan sudah menjanjikan dan memadai sebagai sebuah jabatan profesi.

Sudah barang tentu gengsi guru akan berimplikasi luas ke banyak segi, diantaranya akan berdampak positif maupun negatif. Dampak positif yang diharapkan adalah meningkatnya kinerja guru yang berhubungan langsung dengan meningkatnya prestasi siswa di kelasnya. Yang secara meluas dampaknya diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan secara umum. Dampak negatif yang tidak diharapkan juga berpotensi timbul yaitu peminat menjadi guru akan meningkat. Kalau hal ini tidak ditangani secara baik maka akan berpotensi timbulnya praktek-praktek perekrutan calon guru yang keluar dari prosedur.  Hal ini terkait dengan institusi LPTK penyelenggara pendidikan keguruan. Lain halnya lagi dengan rekrutmen calon pegawai negeri sipil guru dimana di era otonomi daerah pengambil kebijakan di tataran daerah sangat berperan. Sehingga sudahkah ada kesamaam persepsi antara daerah satu dengan yang lainnya tentang tata cara penempatan dan distribusi guru ?  Karna potensi percaloan dalam pengangkatan CPNS guru di daerah tetap ada. 

Bagi guru yang sudah diangkat sudah barang tentu tidak terkait dengan dua hal di atas.  Akan tetapi terkait langsung dengan kinerja kita sehari-hari. Dimana status profesional sesuai harapan kita bersama dapat meningkatkan kinerja kita sebagai guru. Apalagi dengan adanya tunjangan profesi sehingga tak ada alasan lagi bagi kita untuk membuat alasan alasan klasik apabila prestasi belajar siswa menurun. Dimana kita cendrung untuk mempersalahkan siswa. Jarang di antara kita selama ini yang melakukan refleksi pada diri kita bahwa gejala tersebut erat sekali kaitannya dengan model atau metode pembelajaran yang kita terapkan.  Hal tersebut adalah salah satu sisi negatif tersebut jika dilihat dari sisi kita sebagai guru yang sudah PNS . Sisi negatif yang lain adalah menurut pengamatan saya adalah akibat dari prosedur birokrasi profesionalisme guru yang cenderung dipaksakan.

Kenapa saya mengatakan demikian ? Hal tersebut erat sekali kaitannya dengan prosedur penilaian profesionalisme guru dari jalur portofolio. Apakah benar isi portofolio tersebut murni dari kumpulan karya guru yang dikerjakan dalam rangka menjalani profesinya. Coba cermati pernyataan di bawah ini. (1) Seorang kepala sekolah yang nota bene tidak memiliki jam mengajar yang cukup membuat PTK sementara ia sendiri tidak memegang kelas, lulus sertifikasi.  (2) Seorang kepala sekolah yang latar belakangnya adalah guru agama membuat PTK matematika, lulus sertifikasi.  (3) Secara fakta di lapangan terjadi kasus biro jasa pembuatan PTK. Dan banyak guru yang lulus sertifikasi memanfaatkan biro jasa tersebut.  (4) Secara fakta banyak guru muda berpotensi untuk menjadi guru profesional tetapi karna alasan masa kerja maka hal tersebut ditunda.

Seperti biasa di tataran perundang-undangan ambisi mencapai sebuah misi  membangun dan memajukan dunia pendidikan dimentahkan setelah masuk ke tataran kebijakan. Faktanya adalah pemerintah menargetkan untuk menuntaskan program sertifikasi guru antara tahun 2010  hingga tahun 2015. Tetapi apakah sudah dipertimbangkan aspek psikologis calon guru bersertifikasi tersebut ?  Maksudnya adalah apakah mungkin merubah perilaku guru yang sebelumnya sudah terpola secara konsep bahwa pola mengajar biasa ke arah profesional dalam waktu singkat. Kalau dikatakan melalui penataran dan pelatihan adalah jalan keluarnya, maka fakta berbicara program diklat dan sejenisnya di daerah cendrung dilakukan untuk menghabiskan anggaran.  Sementara isi esensial dari diklat tersebut adalah kegiatan formalitas bertemunya nara sumber dengan guru tanpa hasil yang memadai.

Pengalaman saya dalam mengikuti beberapa diklat membuktikan baik peserta maupun nara sumber dalam pertemuan tersebut seia sekata memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghemat waktu dengan tanpa mengurangi honor.

Kalau proses seperti itu berlangsung sedemikian rupa berkelanjutan sehingga menjadi budaya maka tantangan membangun dan memajukan dunia pendidikan adalah untuk sementara berupa isapan jempol saja. Secara semu kita akan mempunya jutaan guru profesional. Juga dengan potensi profesionalitas semu .

Hello world!

Januari 4, 2009 oleh iwayanputra

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!